Teti Taryani

Guru Bahasa Indonesia SMKN 1 Kota Tasikmalaya. Ketua MGMP Bahasa Indonesia SMK Kota Tasikmalaya. Pendidikan S1 Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP Siliwangi Bandu...

Selengkapnya

Mengapa Harus Dia?

“Aiih… siapa anak kecil ini, Umi?” mata Aini memicing sebentar, lalu membesar. Dikerjap-kerjapnya mata berbulu lentik itu dengan jenaka. Kepalanya miring ke kiri. Lalu ke kanan. Kerudung putihnya turut menggelayut ke kiri dan ke kanan. Seakan-akan tengah menaksir makhluk cantik yang ada di hadapannya.

“Namanya Anchi, ya?” Aini pura-pura melotot pada Anchi. “Tahu enggak? Anchi itu artinya bidadari cantik. Umi, bidadari yang ini, cantiknya di mana?” kata Aini sambil melirik uminya.

Anchi menatap Aini dengan alis mengkerut. Bahkan alis hitam itu hampir tersambung, saking herannya. Senyum yang hampir mengembang lantaran senang menyambut kakak barunya, hilang seketika. Bibir kecilnya mulai berkerinyut. Mata sipitnya membentuk garis mungil. Lalu dari sudut matanya menyembul air bening, turun perlahan membasahi pipi putihnya.

“Eh… eh… eh…, sayang banget ada air mata keluar dari mata sipit ini,” Aini belum berhenti menggoda. “Sini kakak bersihin.”

Aini yang masih berseragam SMP itu berlutut dan mengusap pipi Anchi yang ranum. Pelan ia mengecup pipi itu seakan takut melukai. Sebuah pelukan hangat penuh sayang segera ia berikan buat Anchi. Ketakutan Anchi perlahan mengendur. Tapi tangisnya makin melengking.

“Lho kok malah nangis? Masa bidadari cantik, nangis?” Aini memandang lekat-lekat pada Anchi. “Sst… sudah, ya. Kak Aini kan sebenarnya sayang sama Anchi,”

“Abis…,” suara Anchi tersendat. Tangisnya belum menghilang.

“Abis apa?” tanya Aini. “Abis nasi dua piring?” goda Aini menjadi-jadi.

“Abis … abis dikira Kakak jahat,” takut-takut Anchi melirik Aini.

“Ternyata, gimana? Kakak jahat, ya?” tanya Aini.

Anchi menggelengkan kepala seraya menubruk Aini. Ia larut dalam pelukan Aini. Tangan kecilnya berusaha memeluk Aini seerat-eratnya.

Umi Syifa hanya menggeleng-gelengkan kepala menyaksikan keduanya. Perasaannya sangat lega walaupun tadi ia sempat khawatir dengan keisengan Aini pada Anchi.

“Kakangmu masih di mana? Tadi umi lihat kalian pulang bareng,” tanya Umi Syifa.

“Kayaknya Kakang mampir warung Wak Enung. Biasa, nyari cemilan biar badannya makin melar,” kedua tangan Aini membentuk lengkungan besar di samping badannya. Ia terkekeh dengan keisengannya sendiri.

“Hus! Kamu nih, iseng banget!” Umi Syifa menyilang bibir dengan telunjuknya.

“Awas, ya, kalau minta! Pokoknya hari ini gak akan kukasih!” Tahu-tahu Galang sudah berada di dekat Aini.

“Biarin! Aku udah punya kok!” Aini memonyongkan mulutnya.

Galang tak menjawab. Ia segera menuju kamarnya setelah menyimpan sepatu pada raknya. Diletakkan tasnya. Ia mengganti baju seragamnya tanpa bicara sepatah kata pun. Tak terdengar teriakan seperti biasanya. Hari ini makan sama apa, Umi? Setelah mendengar jawaban Umi, Galang pasti bilang: Yes! Masakan Umi pasti uenak!

Umi Syifa menunggu-nunggu teriakan Galang. Tapi tetap tak terdengar.

Tak tahan dengan keanehan ini, Umi lantas mengetuk pintu kamar anak sulungnya.

“Kakang, boleh umi masuk?”

“Iya, Umi. Gak dikunci kok,” suara Galang tidak seperti biasanya. Pelan dan kurang bersemangat.

“Hey, ada apa?” tanya Umi sambil duduk di samping Galang. “Kok enggak nanya lauknya apa. Hari ini umi masak udang asam manis kesukaan Kakang.”

Galang belum bersuara. Umi Syifa menghela napas. Pelan.

“Kalau ada yang salah, tolong maafkan umi,” kalimat uminya ini yang selalu meluluhkan perasaan Galang.

“Umi, kenapa harus ada anak sipit itu di rumah kita?” suara Galang hampir tak terdengar. “Apa keluarga kita gak bakalan kenapa-kenapa?”

“Lho, kan Kakang yang sering mengingatkan umi, kalau menolong itu jangan melihat siapa orangnya. Bantulah kalau orang itu memang membutuhkan pertolongan. Itu yang umi ingat.”

“Iya, sih. Tapi kenapa harus dia?” Galang menatap uminya.

“Kakang lupa, ya? Siapa yang menentukan dia datang ke rumah kita? Sudah pasti, atas kehendak-Nyalah anak itu tinggal di sini. Kita harus yakin, pasti ada hikmah di balik kedatangan Anchi ke rumah kita.”

Umi Syifa menyeka air mata yang tiba-tiba bergulir. Tak tahan ia membayangkan nasib Anchi yang belum mendapat kabar tentang keluarganya.

“Ayo, bersikap baiklah pada Anchi. Kasihan, anak sekecil itu telah kehilangan keluarganya. Dia anak kecil yang lucu dan sangat santun. Kakang pasti sayang sama Anchi.”

Galang menatap uminya. Umi tahu, walaupun tanpa kata-kata, anak sulungnya telah menerima apa yang dia katakan.

Tiba-tiba terdengar suara Aini.

“Umi, Kakang, lihat tuh!”

“Ini … buat Kakang,” kata Anchi. Langkahnya pelan sambil menyodorkan gelas berisi air hangat pada Galang.

Senyumnya amat manis. Hingga matanya tinggal segaris.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Kakang Galang udah mengerti ya sekarang...kereen Bunda Teti..barakallah

12 Feb
Balas

Iya, Bunda. Kakang Galang memang calon lelaki idaman walaupun kadang-kadang sikapnya agak atraktif. Terima kasih Bunda Marlupi sudah berkenan membaca cerpen saya...

12 Feb

Endingnya cool.

11 Feb
Balas

Terima kasih atas apr├ęsiasinya, Pak Mahfud. Mudah-mudahan ceritanya cukup menghibur

12 Feb

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali